Penyediaan jasa konsultan di Bali pada awal decade 80-an, masih dapat dihitung dengan jari. Diperkirakan ada 4-5 konsultan resmi dan beberapa konsultan yang bentuk badan usahanya tidak jelas karena dikelola secara perorangan. Aturan mengenai badan usaha masih sederhana, cukup terdaftar di Cipta Karya dengan proses yang tidak berbelit.
Pada mulanya para konsultan di Bali tergabung dalam asosiasi kontraktor, yaitu Gapensi. Bergabungnya konsultan pada asosiasi kontraktor dinilai suatu hal yang janggal, walaupun kedua-duanya terlibat pada suatu proyek yang sama, tetapi jelas peranannya berlainan. Dapat dipahami bahwa para konsultan di Bali secara struktural menghadapi hambatan internal untuk mengembangkan dirinya. Terasa perlunya suatu asosiasi yang khusus menjadi tempat berhimpunnya para konsultan. Beberapa rekanan kemudian mengambil prakarsa untuk membentuk suatu asosiasi konsultan. Setelah berkonsultansi kesana kemari bermodalkan semangat dan keinginan yang kuat, maka pada sebuah pertemuan di Hotel Denpasar, pada tanggal 26 April 1982 berhasil dibentuk asosiasi konsultan dengan nama : IKATAN NASIONAL KONSULTAN INDONESIA (INKINDO) Cabang Bali, yang pelantikan pengurusnya dilaksanakan pada tanggal 6 April 1982 oleh INKINDO Pusat Jakarta dengan jumlah anggota sebanyak 19 perusahaan.
Bergabungnya INKINDO Bali dalam jajaran nasional merupakan cabang yang ke empat diseluruh Indonesia setelah cabang Riau (10 Maret 1981), Sumatera Selatan (10 September 198) dan Kalimantan Timur (25 Januari 1982).
Kedudukan Sekretariat pada periode ini menumpang di Gedung PT. Yudistira Utama yang beralamat di Jalan Imam Bonjol Denpasar. Dalam kondisi yang masih serba kekurangan, adalah suatu hal yang lazim bahwa peminjaman ruang sekretariat ini tidak terlepas dari keseharian sang Ketua Ir. PS Putra adalah Direktur PT. Yudistira Utama itu sendiri sehingga tidak perlu melakukan perhitungan administratif finansial dalam urusan tumpang – menumpang. Untuk melaksanakan kegiatan administrasi kantor pada saat itu tahun 1982-1985, Pengurus mempunyai satu petugas honorer yang diberi imbalan antara Rp. 10.000 sampai Rp. 12.500 setiap bulan.
Sebagai Asosiasi yang baru lahir apalagi dikendalikan oleh Pengurus yang belum berpengalaman, dalam perjalanan hidupnya merasakan tantangan dan tanggung jawab yang cukup berat. Masih terdapat para pelaku jasa konsultansi yang enggan bergabung ke dalam organisasi. Bahkan beberapa anggota juga menunjukkan ketidakpedulian karena menganggap Inkindo hanya mengurusi soal iuran yang dibayarkan langsung oleh anggota ke Pusat. Kewajiban ini dianggap tidak dibarengi oleh konstribusi yang nyata organisasi terhadap akses proyek di daerah. Aktivitas organisasi yang dilaksanakan oleh Pengurus pada periode 1982 – 1985 selain yang bersifat internal organisasi yaitu rapat – rapat, registrasi dan prakualifikasi, juga pembinaan hubungan antar instansi mitra organisasi.
Di bidang keuangan, masa – masa sulit harus dihadapi dengan melakukan peminjaman modal dari anggota yang kemudian dilunasi secara berangsur.Namun berkat kepatuhan anggota dalam membayarkan iuran organisasi, masalah – masalah dibidang keuangan dapat dikendalikan dengan baik.
Sejalan dengan perubahan kepengurusan yang terjadi dalam Musda tahun 1985 di Werdapura Sanur, dimana kepemimpinan dilanjutkan oleh Ir. I Gusti Made Putra yang juga seorang dosen di FT Unud, maka alamat kantor sekretariat organisasipun hijrah ke Jl. Waturenggong 69 yang merupakan kantor CV. Teknika milik Yayasan Fakultas Teknik Universitas Udayana dengan jumlah anggota sebanyak 22 perusahaan.
Ruang kontrakan di Jl. Waturenggong ini serba sempit. Namun atas saling pengertian dan kerjasama dengan CV. Teknika, keterbatasan ruang sekretariat diatasi dengan menggunakan ruang kantor CV. Teknika.
Yang menjadi momentum penting dari periode ini adalah mulai tertatanya kegiatan administrasi dan proses keorganisasian, dimana metode pengambilan kebijakan maupun keputusan dibuat melalui rapat – rapat dan diskusi – diskusi yang lebih terstruktur. Ini tentu tidak terlepas dari budaya akademik yang diturunkan oleh dunia kampus. Pada era kepengurusan IGM Putra ini peranan unsur – unsur kampus dalam organisasi sangat kental memberikan warna, dimana beberapa nama beken turut mendampingi seperti Rumawan Salain, Dr. Sulistyawati, dan lain- lainnya.